Breaking News:

Berita Kesehatan

Mengenali Tanda Infeksi Covid-19 Menggunakan Bubuk Kopi, Begini Caranya

Mengenali Tanda Infeksi Covid-19 Menggunakan Bubuk Kopi, Begini Caranya. Deteksi Covid-19 Pakai Kopi

majalah.ottencoffee.co.id
Ilustrasi biji dan bubuk kopi. 

"Salah satu hal yang dapat dilakukan dengan sangat mudah (untuk diagnosa Covid-19), secara obyektif oleh seseorang di rumah adalah dengan mengambil kopi bubuk, dan melihat seberapa jauh kita masih bisa mencium aromanya."

TRIBUNPANTURA.COM - Anda penyuka kopi, dan menyediakan bubuk kopi di rumah? Berbahagialah.

Setelah mendapatkan banyak pujian karena aromanya yang kuat dan dapat meningkatkan fungsi saraf, kopi sekarang dipakai sebagai alat diagnostik gejala Covid-19.

Sebuah tinjauan pada literatur ilmiah DCN menyebut, kopi dapat digunakan sebagai barometer timbulnya infeksi Covid-19.

Baca juga: Jubir Vaksinasi: Seluruh Vaksin Covid-19 dari Bio Farma Gratis, Bisa Didapatkan di Tempat Ini

Baca juga: Kapan Izin Edar Vaksin Covid-19 Terbit? Begini Penjelasan BPOM

Baca juga: Bahaya Konsumsi Vitamin D Berlebihan, di Antaranya Sebabkan Gagal Ginjal, Waspada!

Baca juga: Ibu Hamil Dilarang Makan Durian? Ahli Justeru Ungkap Manfaat Durian untuk Bumil, Begini Faktanya

Di sisi lain, Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat sudah mencantumkan hilangnya indera penciuman atau anosmia sebagai salah satu gejala paling umum dari Covid-19.

Dalam studi terbaru , 50-80 persen orang yang positif terkena Covid-19, kemampuan penciumannya pun berkurang.

Kabar baiknya, kebanyakan orang yang menderita anosmia karena Covid-19 pada akhirnya bisa memulihkan indera pengecap dan penciuman sepenuhnya dalam waktu sekitar 14 hari.

Mengingat prevalensi anosmia di antara pembawa Covid-19 sangat tinggi, beberapa dokter mendesak orang-orang untuk mulai mencium aroma kopi.

"Salah satu hal yang dapat dilakukan dengan sangat mudah, secara obyektif oleh seseorang di rumah adalah dengan mengambil kopi bubuk, dan melihat seberapa jauh kita masih bisa mencium aromanya."

Demikian dikatakan Profesor James Schwob dari Fakultas Kedokteran Tufts University di Massachusetts, Amerika Serikat.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved