Berita Jateng
Ini Kata Pakar Kesehatan Masyarakat dan Psikolog Soal Gerakan Jateng di Rumah Saja
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menggulirkan gerakan Jateng di Rumah Saja pada Sabtu dan Minggu (6-7/2/2021) akhir pekan ini.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muh radlis
TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menggulirkan gerakan Jateng di Rumah Saja pada Sabtu dan Minggu (6-7/2/2021) akhir pekan ini.
Ganjar menuturkan gerakan tersebut semacam mengheningkan cipta dalam waktu panjang atau dua hari turut berempati kepada para orangtua, tenaga kesehatan, tokoh agama yang meninggal karena covid.
"Saya tidak memaksa. Pun tidak ada sanksi atau denda (jika keluar rumah). Ini sebuah gerakan untuk mengetuk kesadaran bersama. Semacam hening cipta yang agak lama. Sebagai rasa empati dan hormat kita pada pahlawan covid yang gugur," kata Ganjar dalam video singkat berdurasi 1:36 detik yang dikutip Kamis (4/2/2021).
Jateng di Rumah Saja ini pun mematik reaksi dari beragam kalangan termasuk psikolog dan pakar kesehatan masyarakat.
Psikolog RS Santo Elisabeth Semarang, Probowatie Tjondronegoro menyatakan, seharusnya gerakan ini dibuat aturan dengan tindakan tegas untuk pelanggar.
Jika hanya imbauan, kata dia, masyarakat tidak akan menanggapinya.
"Jika cuma imbauan aja, akan terjadi perilaku yang suka- suka gue. Soalnya dengan tren kasus Covid-19 naik berarti masyarakatnya kan banyak belum sadar. Kalau wujudnya peraturan, ya mestinya ada sanksi," kata Probowatie.
Menurutnya, harus ada definisi yang jelas apa itu Jateng di Rumah Saja. Ia pun mengingatkan Gubernur Jateng supaya hati-hati membuat kebijakan mengingat secara psikologis, seseorang yang dilarang melakukan sesuatu biasanya semakin melakukan pelanggaran.
"Biar warga yang melakukannya tidak meraba-raba. Orang semakin dilarang yang ada malah semakin melanggar," tandasnya.
Selain itu, sebagai orangtua, kata dia, juga harus mengetahui dengan jelas aturan itu. Agar ketika meminta anaknya untuk tidak keluar rumah bisa memberikan keterangan secara jelas.
"Para orangtua harus diberi tahu aturan yang jelas ketika meminta anaknya diam di rumah. Jadi secara psikologis, sebagai orangtua mesti tahu aturan-aturannya seperti apa, definisi Gerakan Jateng di Rumah Saja itu gimana. Sehingga kita bisa jelaskan ketika ketemu anak-anak di rumah," ucapnya.
Mestinya pemerintah memberikan pemahaman teknis dengan jelas dalam pelaksanaan Jateng di Rumah Saja supaya gampang dimengerti setiap warga.
Ia menambahkan, selama 10 bulan masyarakat menghadapi pandemi, banyak keluarga yang mudah tersulut emosinya.
Selama itu, jumlah kasus konflik yang terjadi di lingkungan keluarga semakin meningkat.
Efek yang dirasakan yakni ketika adanya gesekan konflik ketika ibu dan anaknya berhari-hari beraktivitas di rumah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pantura/foto/bank/originals/tangkapan-layar-video-ganjar-memberikan-keterangan-terkait-jateng-di-rumah-saja.jpg)