Berita Jateng
Kisah KH Busyro Syuhada Sang Jawara Guru Silat Jenderal Soedirman
Lahan sempit di belakang masjid Desa Binorong, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, terdapat pusara.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: muh radlis
TRIBUNPANTURA.COM, BANJARNEGARA - Lahan sempit di belakang masjid Desa Binorong, Kecamatan Bawang, Banjarnegara, terdapat pusara.
Di situ, KH Busyro Syuhada, pendekar silat yang melegenda dimakamkan.
Tak ada beda makam tokoh tersebut dengan makam lain di sekitarnya.
Hanya batu nisan tua yang menancap di pusaranya.
Tidak ada bangunan atau pagar yang menandai kekeramatannya.
Rumput liar tumbuh subur menutupi permukaan lahan.
Meski namanya kurang populer, Mbah Busyro nyatanya telah melahirkan banyak tokoh pendekar, di antaranya pahlawan nasional Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Bukan hanya memiliki kemampuan militer dan taktik perang, Soedirman rupanya juga membekali dirinya dengan ilmu bela diri dan spiritual.
Untuk urusan itu, Soedirman harus mengakui kehebatan Busyro Syuhada, jawara silat di zaman kolonial.
Hingga ia memutuskan pergi ke Banjarnegara untuk menemui sang jawara. Dirman mendaftar sebagai murid di padepokan yang diasuh kyai Busyro.
Bangunan padepokan yang berada di sisi jalan nasional itu kini sudah tak berbekas. Lahan padepokan telah disulap menjadi Rumah Sakit Islam (RSI) Bawang, Banjarnegara.
Di padepokan itu, Soedirman bersama santri lainnya dari berbagai daerah digembleng dengan ilmu bela diri dan spiritual. Tetapi Fuad tak mengetahui persis materi spesifik yang diajarkan kakeknya ke Jenderal Soedirman.
“Yang diajarkan silat, dan ilmu rohani,”kata Fuad, cucu KH Busyro Syuhada, Selasa (25/5/2021)
Jenderal Soedirman tak lama menimba ilmu di padepokan, hanya 21 hari. Tetapi di waktu yang singkat itu, Soedirman benar-benar total belajar.
Keseriusannya ia buktikan dengan menetap atau tinggal di langgar padepokan. Sehingga ia bisa maksimal menyerap ilmu dari sang guru. Sayang Fuad tak mengetahui cerita lebih lengkap perihal hubungan guru-murid KH Busyro dengan Jenderal Soedirman.