Breaking News:

Berita Jateng

Pemprov Jateng Bertekad Hapuskan Perkawinan Anak

Angka perkawinan anak diprediksi terus bertambah dari tahun ke tahun. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertekad tidak hanya menurunkan

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: muh radlis
IST
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menunjukan poster yang berisi tulisan kampanye untuk pencegahan perkawinan anak. 

Penulis: Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Angka perkawinan anak diprediksi terus bertambah dari tahun ke tahun. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertekad tidak hanya menurunkan angka kasus, tetapi juga menghapuskan perkawinan anak.

Harus ada upaya ekstra keras yang dilakukan pemerintah agar perkawinan anak yang berkorelasi dengan kemiskinan bisa dihilangkan.

Selain peran pemerintah, juga harus ada pemahaman kolektif mengenai bahaya pernikahan anak yang perlu dibangun semua elemen masyarakat: akademisi, masyarakat, organisasi masyarakat, dan media.

Jateng memiliki gerakan Jo Kawin Bocah yang diinisiasi Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jateng.

Gerakan ini mengajak semua elemen untuk bersatu padu memberikan pemahaman bahwa pernikahan anak membawa dampak negatif yang bisa memicu persoalan ekonomi, kehamilan, dan kematian orangtua.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo menyampaikan bahwa kebanyakan korban pernikahan anak adalah perempuan. Ia pun mendengar langsung penuturan dari seorang ibu yang anaknya nikah dini lantaran hamil duluan.

"Pemerintah mempunyai regulasi. Tapi memang kalau pemerintah punya, regulasi bisa masuk kamar tidur? tidak bisa. Ada proses dan melibatkan banyak orang, ada Unicef, ada MUI (pemuka agama). Orangtua juga punya peran penting dalam pendidikan di luar sekolah," kata Ganjar dalam acara Talkshow Gelar Expo Jo Kawin Bocah di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Rabu (9/6/2021).

Ganjar menuturkan adanya permasalahan anak menikah bukan hanya semata-mata karena keinginan, tetapi juga bisa saja situasi, hubungan orangtua yang tidak harmonis sehingga anak tidak terurus, orangtua bermasalah hukum dan sosial, serta pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki anak.

Sehingga, ia menegaskan jika banyaknya kasus kawin anak di Jateng tinggi jangan menyalahkan anak-anak, tetapi juga orangtua.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved