Selasa, 14 April 2026

Berita Semarang

Harga Elpiji Nonsubsidi Naik, Gas Tabung Melon Kini Lebih Laris

Kenaikan harga produk LPG nonsubsidi yang berlaku mulai 27 Februari 2022 kemarin, membuat para pedagang mulai khawatir akan kelangkaan gas melon.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Moch Anhar
TRIBUNPANTURA.COM/IDAYATUL ROHMAH
Tumpukan tabung gas elpiji di sebuah toko di Jalan Wotgandul Semarang, Selasa (1/3/2022). 

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Kenaikan harga produk LPG nonsubsidi yang berlaku mulai 27 Februari 2022 kemarin, membuat para pedagang mulai khawatir akan kelangkaan gas melon atau gas elpiji 3 kilogram (bersubsidi).

Pasalnya, setelah adanya pengumuman penyesuaian harga LPG nonsubsidi yang berlaku sekitar Rp 15.500 per kilogram itu, pedagang kini mulai merasakan tersendatnya pasokan.

Toyib, satu di antara pedagang ecer gas melon di Jalan Kauman, Semarang menuturkan, jumlah didapatkannya kini mulai berkurang jika dibandingkan dengan sebelum adanya kenaikan harga elpiji nonsubsidi 

Dikatakan, jika biasanya dalam sehari ia bisa memperoleh hingga 30 tabung gas melon untuk dikirim ke rumah-rumah ataupun warung, kini ia hanya mendapatkan sekitar 20 tabung.

Baca juga: DPRD Dorong Trans Semarang Promosi Feeder III ke Sekolah dan Tempat Umu

Baca juga: Satpol PP Kudus ‎Incar Dua Distributor‎ Minuman Beralkohol

"Sekarang agak langka, biasanya dapat banyak sekarang sedikit.

Kalau biasanya sekali ambil (ke agen) saya dapat 15 tabung, dua kali sehari jadi sekitar 30 tabung. Ini paling sekali antar 10 atau 8 tabung. Kalau sekarang sehari sekitar 20 tabung. Tidak pasti," kata dia, Selasa (1/3/2022).

Toyib menyebutkan, seperti yang telah diumumkan PT Pertamina Patra Niaga, Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) bahwa harga gas bersubsidi memang tidak mengalami kenaikan.

Saat ini, ia pun masih kulak dengan harga Rp 16 ribu, yang kemudian ia jual dengan harga Rp 18 ribu per tabung isi ulang.

Namun kata dia, dengan adanya kenaikan harga gas elpiji non subsidi turut memberikan pengaruh terhadap pendistribusian tabung gas bersubsidi.

"Pengiriman jadi telat, sehingga pelanggan juga berusaha cari di sekitar sini tapi susah juga. Kalau gas elpiji 5,5 kilogram dan 12 kilogram memang saya tidak jual, tidak punya tabungnya," kata dia.

Pedagang ecer lain, Setiabudi yang memiliki toko di Jalan Wotgandul Semarang menuturkan, sejak adanya penyesuaian harga gas elpiji nonsubsidi, penjualan gas elpiji bersubsidi semakin meningkat.

Dikatakan, jika biasanya ia mampu menjual sekitar 30 gas elpiji melon, dengan kenaikan harga nonsubsidi kini ia mampu menjual sekitar 40 gas elpiji melon.

"Gas Melon sekarang laris, karena banyak yang beralih ke tabung kecil (melon). Biasanya sehari terjual sekitar 30 tabung, sekarang 40 tabung," ungkapnya.

Namun di sisi lain, Setiabudi menjelaskan, penjualan gas nonsubsidi kini menurun drastis. Bahkan ia menyebut tidak menentu setiap harinya.

Biasanya, kata dia, dalam sehari ia mampu menjual tiga tabung gas elpiji 12 kilogram. Namun ia kini hanya mampu menjual satu tabung gas 12 kilogram sejak kenaikan harga berlaku.

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved