Breaking News:

Berita Jateng

Terobosan Ganjar Hadapi Potensi Krisis Pangan, Siapkan Beras Jagung Sebagai Cadangan Pangan Daerah

Ancaman resesi global 2023 yang berpotensi terjadinya krisis pangan tetap diantisipasi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Penulis: hermawan Endra | Editor: m zaenal arifin
IST
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meresmikan Pusat Data Center di Semarang, Selasa (3/1/2023). 

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Jawa Tengah menyandang status sebagai lumbung pangan. Namun demikian, ancaman resesi global 2023 yang berpotensi terjadinya krisis pangan tetap diantisipasi Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Di antara terobosan yang dilakukan Ganjar guna mengantisipasi potensi krisis tersebut adalah upaya diversifikasi pangan dengan menyiapkan pangan lokal sebagai cadangan pangan daerah. 

Pangan lokal yang dimaksud di antaranya mie mocaf (tepung singkong), beras jagung, dan beras singkong. Jateng juga mengembangkan varietas kedelai Grobogan, menaman di pekarangan, hingga penggunaan pupuk organik.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Jawa Tengah Dyah Lukisari mengatakan, langkah penganekaragaman pangan di Jateng sudah dimulai sejak lama.

Namun, perlu langkah kreatif untuk menjadikan pangan lokal sebagai raja di daerah sendiri. 

Selain dikenal sebagai produsen beras penyangga kebutuhan nasional, Jateng juga kaya akan potensi pangan alternatif.

Berdasarkan data Distanbun Jateng, produksi pangan alternatif di Jateng berlimpah.

Misalnya ubi kayu yang produksinya mencapai 2.288.971 ton di September 2022, ubi jalar 114.415 ton, kacang tanah 58.423 ton, dan kacang hijau 24.590 ton.

Sedangkan untuk produksi jagung, hingga September 2022 mencapai 3.047.712 ton.

Sementara, produksi kedelai hingga bulan yang sama baru mencapai 47.246 ton.

Adapula tanaman sorgum, yang tahun ini ditanam di lahan seluas 120 hektare, di Wonogiri, Sukoharjo dan Cilacap. Produktivitasnya juga tinggi, mencapai sekitar 1.000 ton. 

Menurut Dyah, strategi diversifikasi pangan dilakukan dengan membudayakan pangan lokal kepada masyarakat.

Cara tersebut ditempuh agar pola pikir warga tidak mengacu pada satu komoditas, seperti beras. 

Berangkat dari pola pikir tersebut, sejak 2022, Dishanpan menganggarkan Rp 100 juta untuk pembelian pangan alternatif sebagai cadangan pangan, berdampingan dengan komoditas cadangan pangan utama yakni beras. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Pantura
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved