Berita Brebes
Kisah Muhadi Ayah Dedy Yon, Nyantri di Ciwaringin, Jadi Kondektur Bus hingga Dirikan Dedy Jaya Grup
Kisah Muhadi Setiabudi Ayah Dedy Yon, Nyantri di Babakan Ciwaringin, Jadi Kondektur Bus hingga Dirikan Dedy Jaya Grup
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: yayan isro roziki
Dr (HC) Muhadi Setiabudi, pernah nyantri di Babakan, Ciwaringin, Cirebon, lalu jualan bambu. Pernah jadi kondektur bus, hingga akhirnya sukses mendirikan Dedy Jaya Grup, yang menaungi PO Dedy Jaya dan sejumkah perusahaan lainnya.
TRIBUNPANTURA.COM, BREBES - Masyarakat di wilayah Brebes dan Tegal Raya tentu tidak asing dengan armada Perusahaan Otobus (PO) bernama Dedy Jaya.
Hampir setiap jam armada bus Dedy Jaya melintas di sepanjang jalan pantura dengan tujuan akhir Ibu Kota Jakarta.
Perusahaan otobus tersebut menjadi satu unit bisnis di perusahaan Dedy Jaya Group milik Dr (HC) H Muhadi Setiabudi (61).
Baca juga: Kisah Said Aqil, Santri API Tegalrejo Pengusaha Kapal Sukses di Tegal, Deg-degan Tak Hafal Alfiyah
Baca juga: Tak Ada Mahasiswa yang Diundang Acara Tolak Aksi Anarkisme, Aktivis IPNU Batang Protes
Baca juga: P2N-PBNU dan Kemenpora Gelar Pelatihan Wirausaha bagi Santri di Jepara, Jadug: Potensinya Besar
Baca juga: Peringatan Hari Santri Nasional di Kabupaten Tegal Dirayakan Sederhana Karena Pandemi Covid-19
Dia adalah seorang pengusaha sukses asal Brebes, Jawa Tegah, yang merintis usahanya dari nol.
Muhadi juga membangun beberapa rumah sakit yang tersebar di wilayah Brebes, Tegal, dan Pemalang. Selain itu, ia mendirikan sebuah perguruan tinggi bernama Universitas Muhadi Setiabudi (Umus) di Brebes.
Namun siapa sangka, sosok pengusaha sukses tersebut adalah santri alumni Pondok Pesantren (Ponpes) Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat.
CEO Dedy Jaya Group, Muhadi Setiabudi mengatakan, ia lulus dari Ponpes Babakan Ciwaringin pada 1975.
Selama di pondok pendidikannya adalah mengaji kitab kuning di Madrasah Al Hikamus Salafiyah (MHS).
Menurut Muhadi, banyak kenangan saat mondok atau nyantri yang masih lekat diingatannya. Ia ingat betul pesan para ustad dan kiai agar santri tidak malas.
Kemudian kenangan kebersamaan di pondok dengan teman-teman. Mulai dari makan bersama dalam satu wadah hingga mandi di kali.
“Makan satu tapsi (red, nampan) bersama. Mandi di kali bersama teman-teman."
"Banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan. Sangat mengenang, di situ kebersamaan santri,” kata Muhadi saat ditemui tribunpantura.com di RS Dedy Jaya Brebes, Senin (19/10/2020).
Pernah jadi kondektur bus
Muhadi bercerita, setelah selesai belajar di pondok pada 1975, ia ikut bekerja di tambak bersama orangtuanya.
Dua tahun berikutnya pada 1977, ia bekerja sebagai kondektur di Bus Gelora Masa trayek Cirebon- Ciledug.
Kemudian setahun berikutnya pindah menjadi kondektur di PO Sumber Bawang.
Muhadi mengatakan, pada 1979 ia menikah dengan Atik Sri Subekti.
Pada 1980 lahirlah anak pertama bernama Dedy Yon Supriyono yang kini menjabat sebagai Wali Kota Tegal.
Setelah menikah, Muhadi berhenti menjadi kondektur dan sempat usaha berjualan cabai.
Namun tidak membuahkan hasil. Ia pun kembali bekerja di tambak bersama orangtuanya.
“Setelah dari tambak saya berpikir, masa sih saya harus bekerja di tambak terus."
"Ingin merubah nasib waktu itu. Akhirnya saya memutuskan untuk mulai berjualan bambu,” kenangnya.
Muhadi mengatakan, perjalanan kariernya dimulai dari berjualan bambu yang didatangkan dari Ciamis, Jawa Barat.
Ia mengatakan, pada 1981 ia mendapat pinjaman uang dari BRI sejumlah Rp50 ribu, nilainya saat ini setara dengan Rp2 juta.
Karena dirasa kurang, ia meminta pinjaman tambahan sebesar Rp25 ribu yang senilai dengan Rp1 juta.
Dari usaha bambu tersebut, kemudian berkembang ke usaha-usaha lainnya seperti bus, hotel, hingga swalayan.
Muhadi mengatakan, usaha bambunya yang kini telah berusia 39 tahun masih ada.
Ia menilai, usaha bambu adalah cikal-bakal dari perusahaan Dedy Jaya Group. Oleh karena itu tidak akan dilupakan.
“Di situlah perjalanan karier saya. Dari pondok pesantren, Alhamdulillah bisa sampai punya usaha seperti ini,” ungkap Muhadi yang juga aktif mengisi ceramah di masjid dan kampung-kampung.
Memiliki 5.400 karyawan
Muhadi bersyukur, jerih payah di masa mudanya membuahkan hasil untuk perekonomian keluarga dan masyarakat dalam hal lapangan pekerjaan.
Ia mengatakan, saat ini total karyawannya berjumlah 5.400 orang. Mereka tersebar di berbagai unit bisnis yang dimiliki oleh Dedy Jaya Group.
Oleh karena itu, menurut Muhadi, setelah santri pulang dari pondok maka harus mau bekerja keras.
Ia mengatakan, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi pemalas, karena Allah SWT tidak suka.
Hal itu seperti sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi Allahuma barik ummati ummati fi bukuriha, maknanya bangunlah di pagi hari.
“Kata Rasulullah, bangunlah dari tidur dan lakukanlah yang terbaik. Bangun dari tidur, mari kita wudhu, sholat, dzikrullah."
"Persiapkan untuk apa yang akan kita kerjakan pagi hari,” ungkapnya.
Muhadi juga berpesan, jangan berpikir santri pulang dari pondok pesantren mau jadi apa dan kerja apa.
Karena banyak jebolan santri yang menjadi pengusaha, jenderal, pejabat, maupun profesor.
Muhadi mengatakan, selain usaha santri juga harus selalu berdoa saat sedang bermunajat kepada Allah SWT.
Lafalkanlah doa robbana atina fiddunya hasanah wafil akhiroti hasanah wa qina adzabannar.
Artinya Ya Allah berilah kami kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan jauhkanlah dari siksa api neraka.
“Ingat, tujuan santri dari rumah aku datang menuntut ilmu aku pulang membawa ilmu. Supaya ilmu itu bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain,” pesannya. (fba)
Baca juga: Tersangka Kasus Konser Dangdut di Tegal Bersyukur, Wasmad: Alhamdulillah Tak Ada Klaster Baru
Baca juga: Pengusaha Inginkan UMK 2021 Naik 0 Persen, Buruh Bikin Tenda Perlawanan di Kantor Disnaker Jateng
Baca juga: Pengisian Jabatan Pimpinan DPRD Kabupaten Pekalongan dari PDIP, Sekwan: Tunggu SK Gubernur
Baca juga: Tersangka Kasus Senjata Api Ilegal, Mantan Danjen Kopassus Soenarko Segera Diperiksa Polisi