Berita Kendal
Mengenal Ponpes An Nur Kersan Kendal, Berdiri pada 1884, Tetap Pertahankan Metode Pengajaran Salaf
Mengenal Ponpes An Nur Kersan Kendal, Berdiri pada 1884, Tetap Pertahankan Metode Pengajaran Salaf
Penulis: Saiful Masum | Editor: yayan isro roziki
Penulis: Saiful Masum
TRIBUNPANTURA.COM, KENDAL - Di Kabupaten Kendal, tepatnya di Dusun Kersan, Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon terdapat sebuah pondok pesantren tua yang berusia 137 tahun.
Adalah pondok pesantren (Ponpes) An Nur yang dikenal sebagai pondok khas bangunan tua dan mempertahankan pengajaran salaf murni kepada santrinya.
Ponpes An Nur didirikan pada 1884 oleh Kiai Ahmad Noer dan masih eksis hingga sekarang.
Baca juga: Mengintip Aktivitas Menulis Al Quran di Ponpes Mumtaza Banjarnegara, Diikuti Peserta Lintas Usia
Baca juga: Menengok Rutinitas Warga Binaan Lapas Tegal semasa Ramadan, Siang Malam Giat Tadarus al Quran
Baca juga: SMK di Kabupaten Tegal Rakit dan Produksi Laptop, Ini Spesifikasi dan Mereknya, Bisa Dibeli di Sini
Baca juga: Daftar Lengkap 53 Awak KRI Nanggala 402, Kini Barptaroli Selamanya di Lautan Indonesia
Kini, pondok pesantren yang memiliki 7 komplek penginapan santri ini masih diramaikan 200-an santri putra dan putri dari berbagai daerah.
Beberapa di antaranya merupakan santri kalong Kendal yang tidak menetap di wilayah pondok.
Ponpes An Nur Kersan sudah melewati 4 generasi pengasuh. Masing-masing generasi pertama pendiri pondok KH Ahmad Noer, dilanjutkan menantunya KH Ahmad Jalal pada generasi kedua.
Generasi ketiga diteruskan KH Ahmad Nur Fathoni merupakan santri Kersan yang dinikahkan dengan putri Ahmad Jalal.
Sedangkan pada generasi keempat hingga sekarang diampu oleh Kiai Subhan Nur bersama Kiyai Izzuddin Abdussalam.
Praktis ponpes An Nur Kersan sudah berdiri selama 137 tahun dan kini masih memiliki sejumlah santri yang menetap dari berbagai daerah. Sebut saja, Batang, Pemalang, Pekalongan, hingga Cirebon.
Tak hanya mempertahankan pengajaran berbasis salafi murni, pengurusnya pun masih menjaga dan mempertahankan struktur bangunan komplek dengan 7 bangunan panggung tempat santri bermalam.
Lima gubuk panggung berada di komplek santri putra, dan sisanya berada di komplek santri putri.
Ketua pengurus Ponpes An Nur Kersan, M Kholidil Wafa (43) mengatakan, selama 4 generasi berjalan, struktur bangunan ponpes tak mengalami banyak perubahan.
Mereka masih menjaga kekhasan gubuk panggung tanpa mengubahnya menjadi bangunan modern.
Kisah berdirinya pesantren

Kata Kholid, awal mula berdirinya Ponpes An Nur Kersan diinisiasi langsung oleh Ahmad Noer jauh sebelum era kemerdekaan.
Saat itu, Ahmad Noer ingin menetap dan mendirikan pusat pembelajaran agama di Penanggulan Pegandon dengan cara ikhtiar menghanyutkan diri di sungai Bodri dari arah selatan dengan menaiki debog (batang pohon pisang) hingga berhenti di wilayah Kersan.
"Nah ikhtiar itu, simbah Kiai Ahmad Noer berhenti di Kersan ini dan mulai menetap membangun pondok," terangnya, Minggu (25/4/2021).
Komplek pertama yang dibangun adalah gubuk Darun Naim dan sebuah musala panggung untuk tempat ibadah. Dua bangunan ini bertahan beberapa tahun hingga memasuki generasi kedua.
Dengan dua bangunan itu, Ahmad Noer mulai merintis dakwah Islam di Kersan dengan metode pengajaran salafi murni (kitab kuning).
"Yang paling awal ya ini Darun Naim terbuat dari kayu yang masih digunakan sampai sekarang. Kalau musala panggungnya sudah direnovasi," ujarnya.
Komplek Ponpes An Nur semakin berkembang pada generasi-generasi setelahnya. Beberapa gubuk tempat santri bermalam turut ditambah.
Seperti contoh Darussalam, Darul Firdaus, Darul Muttaqin, dan Darul Ma'wa. Sementara dua gubug lainnya diambil dari nama-nama perempuan zaman Rasulullah di komplek santri putri.
Selain itu, kata Kholid, juga turut dibangun perkantoran dan perpustakaan untuk menunjang pembelajaran santri.
Meski tak ada pendidikan formal di dalam pondok, bagi santri yang hendak menuntut pendidikan formal diperbolehkan sekolah di luar pondok.
"Masa keemasan pondok ini pada generasi kedua dan ketiga. Santri yang menetap saja lebih dari 300 orang. Makanya setiap gubuk dibuat beberapa kamar dengan nama daerah masing-masing."
"Ada Limpung Batang, Demak, Pekalongan, dan daerah lainnya sebagai penanda," tuturnya.
Cikal bakal pesantren di sekitar Kendal
Menjadi salah satu pondok tertua di Kabupaten Kendal, Ponpes An Nur Kersan telah melahirkan ribuan santri dari berbagai daerah. Bahkan, banyak alumni PP An Nur Kersan yang berhasil membangun pondok di sekitar Kabupaten Kendal.
Seperti contoh, ponpes Wasilatul Huda di Desa Tamangede Gemuh, Ponpes Raoudlotul Mutaallimin di Desa Pamriyan Gemuh, ponpes di Pidodo Wetan Patebon, ponpes di Sukorejo dan beberapa pondok lain di luar daerah yang berhasil didirikan para alumni santri.
"Kalau yang masih ada hubungan keluarga, ada 6 pondok pesantren di Kendal berdiri setelah Ponpes An Nur Kersan. Termasuk dari Kiai Izzudin yang saat ini sudah membangun pondok pesantren di dekat PP An Nur," ujarnya.
Tak Mengenal Umur
M Kholidil Wafa menuturkan, dengan berpegang pada pengajaran salafi murni, santri PP An Nur Kersan tidak memandang umur.
Bahkan, katanya, ada juga santri senior yang berusia di atas 60 tahun masih menetap dan tinggal di lingkungan pondok.
Mereka mengikuti kegiatan mengaji kitab para santri lain 5 kali dalam sehari. Termasuk mengikuti madrasah diniyah setiap malamnya.
"Kalau santri senior, rata-rata adalah dulunya santri PP An Nur Kersan. Jadi alumni, kemudian kembali lagi ke sini."
"Semua santri di sini hidupnya mandiri, mencari makan sendiri, masak sendiri, namun tidak jangan sampai melupakan waktunya mengaji," terangnya.
Kata Kholid, pihaknya akan terus berjuang mempertahankan eksistensi pondok sebagai sarana dakwah tanpa henti.
Ia berharap, PP An Nur Kersan menjadi kawah candradimuka (pusat pembelajaran) agama Islam untuk melahirkan para generasi penerus penyebar agama Islam di berbagai daerah.
"Kita sudah ada organisasi alumni yang kuat dengan nama himpunan mutakhorijin PP An Nur Kersan (Himmaka). Sudah ada ribuan santri di dalamnya, dan ini menjadi kekuatan pondok agar bisa terus berdakwah," tukasnya. (Sam)
Baca juga: Terdeteksi di Kedalaman 850 Meter, Begini Kesulitan yang Dialami Tim Evakuasi KRI Nanggala 402
Baca juga: Namanya Torakor Tomat Rasa Korma Kreasi Pasutri di Brebes, Rasa Warna dan Bentuknya Mirip Kurma
Baca juga: Mencicipi Ampo di Blora, Kuliner Jadul Terbuat dari Tanah Liat, Dipercaya Bisa Obati Sakit Perut
Baca juga: Ahli Luar Negeri Sebut KRI Nanggala 402 Tenggelam Terlalu Dalam, Sulit Diprediksi Apa yang Terjadi