Berita Jateng

Nyeri di Dada Tanda Terpapar Virus Covid-19? Ini Penjelasan Dokter Spesialis

Orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala, biasanya ada gangguan pada organ tubuh.

Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: muh radlis
IST
Tangkapan layar Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Primaya Hospital, Bambang Budiono menjelaskan kaitan antara nyeri dada dan covid 

"Bisa juga nyerinya di bahu, rahang, di sekitar ulu hati. Karena itu dokter kerap tertipu.

Ada yang sakit di bagian ulu hati lalu minum obat maag, ternyata itu jantung," jelasnya.

Orang yang mengalami serangan jantung sering merasakan nyeri di dada sekaligus merasa tidak nyaman.

Gejala lainnya termasuk keluar keringat dingin, pusing, hingga hilang kesadaran.

Rasa nyeri itu muncul karena berkurangnya aliran darah ke jantung.

Darah ini mengandung oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan semua organ tubuh, termasuk jantung.

Karena itu, otot jantung akan memakai sumber energi lain untuk memompa darah ke seluruh tubuh, yaitu asam laktak.

Namun asam laktat justru bisa menumpuk pada otot jantung dan menimbulkan rasa sakit.

Di sisi lain, menurut WHO, nyeri dada adalah gejala serius Covid-19.

WHO menyarankan orang-orang segera mencari pertolongan medis bila mengalami rasa nyeri di dadanya disertai sesak napas, napas pendek, dada seperti tertekan, dan sulit berbicara.

Ada beberapa alasan kenapa Covid-19 bisa menyebabkan dada terasa sakit, antara lain batuk keras yang membuat otot tertarik hingga robek atau tulang rusuk retak, menderita pneumonia, yang bisa jadi komplikasi Covid-19, paru-paru terinfeksi atau mengalami peradangan, mengalami emboli paru (bekuan darah masuk ke aliran darah menuju paru-paru).

"Namun demikian, hanya 2 persen orang yang sakit karena covid dengan dada yang sakit.

Nyeri di dada bukan gejala umum covid. Lebih sering terjadi pada orang dewasa 28 persen daripada anak-anak yang hanya 10 persen," bebernya.

Selain itu, ia menuturkan, nyeri dada adalah gejala klinis yang bisa terjadi pada banyak penyakit, bukan monopoli penyakit jantung koroner saja.

"Perlu dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik, dan berbagai pemeriksaan penunjang agar dapat membantu memastikan penyebabnya," imbuhnya.

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved