Breaking News:

Opini

Opini Idham Cholid: NU, Muktamar dan Pentingnya Regenerasi Kepemimpinan

Opini Idham Cholid: NU, Muktamar dan Pentingnya Regenerasi Kepemimpinan muktamar ke-43 NU gus yahya said aqil siradj

Dok Pribadi Idham Cholid
Idham Cholid, Ketua Umum Jayanusa; warga Nahdliyin, tinggal di Wonosobo; Mantan Ketua Umum PMII Jombang 1994-1996; Ketua PB PMII 1997-1998 

Idham Cholid |Warga Nahdliyin, tinggal di Wonosobo; Mantan Ketua Umum PMII Jombang 1994-1996; Ketua PB PMII 1997-1998

Muktamar ke-34 NU tinggal menghitung hari. Forum tertinggi jam'yah Nahdlatul Ulama yang akan dihelat di Bandar Lampung pada 23-25 Desember mendatang, dengan demikian kurang 76 hari lagi, sejak hari ini.

Apakah karena masih dalam kondisi Pandemi Covid-19 Muktamar 34 NU menjadi kurang greget lagi? Padahal seharusnya, Muktamar sudah dilaksanakan satu tahun yang lalu.

Kurang gregetnya, terutama pada opini yang mengemuka akhir-akhir, justru lebih kepada perebutan Ketua Umum PBNU. Maaf, sebegitu vitalkah jabatan Ketua Umum (Tanfidziyyah) sehingga harus menguras energi sedemikian rupa untuk memperdebatkannya?

Bukankah NU adalah jam'iyah yang "dikendalikan" oleh kepemimpinan ulama, dengan demikian otoritas keulamaan-lah yang sebenarnya harus lebih dikedepankan. Ulama yang seharusnya menjadi sumber inspirasi, bukan sekadar diposisikan sebagai alat legitimasi kepentingan pencalonan!

Kita tak memungkiri, suksesi kepemimpinan PBNU memang sangat penting. Jika ini yang harus dibahas, maka yang patut kita renungkan justru perlunya NU mempersiapkan proses regenerasi yang mapan.

Tentu kita tak ingin mengulang sejarah kepemimpinan almaghfurlah KH Idham Chalid yang karena begitu lama (1952-1984) akhirnya "didongkel" para kiai dan melahirkan konflik berkepanjangan.

Gus Dur buka pintu regenerasi

Gus Dur telah menjadi pintu regenerasi kepemimpinan yang sangat baik. Tiga periode kepemimpinannya (1984-1999) telah berhasil menciptakan kader unggulan dan merubah wajah NU, bahkan di mata internasional.

Tiga periode kepemimpinan Gus Dur bukan untuk dijadikan yurisprudensi. Apalagi konteksnya saat ini sudah jauh berbeda. Alm KH Hasyim Muzadi pun cukup dua kali memimpin NU (1999-2010).

Halaman
12
Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved