Berita Jateng
30 Persen Garam yang Beredar di Jawa Tengah Tak Beryodium
Yayasan Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah bekerjasama dengan Nutrition Internasional,
Penulis: faisal affan | Editor: muh radlis
Tapi saat ini sudah terbalik, hanya 30 persen saja garam yang belum beryodium," tuturnya.
Setiap hari manusia membutuhkan garam beryodium antara 120 - 150 mikrogram yodium.
Sebenarnya bisa disuplai dari mana saja.
Namun yang paling banyak masih dari garam.
"Kekurangan garam beryodium akan membuat IQ manusia turun. Itu efek yang paling ringan.
Efek yang paling berat bisa menyebabkan keguguran pada ibu hamil," jelasnya.
Adapun, Ngargono, pengurus LP2K sekaligus narasumber dari kegiatan pelatihan menambahkan, tahun 2018 Disperindag Provinsi Jawa Tengah sudah memberlakukan sertifikasi SNI untuk sebuah produk garam.
"Garam yang diproduksi di wilayah Jawa Tengah harus melalui sertifikasi SNI yang dikeluarkan oleh Disperindag Provinsi Jateng.
Itu hukumnya wajib.
Otomatis jika sudah SNI tentunya produk garam tersebut sudah mengandung yodium," ucapnya.
Namun yang cukup disayangkan, ada beberapa produsen garam nakal yang nekat mencantumkan label yodium padahal ketika dicek tidak ada.
"Itu sangat disayangkan. Padahal garam beyodium jika dijual di pasar harganya hanya Rp 10 ribu dibandingkan dengan yang tidak harganya Rp 8 ribu.
Nah, masalahnya kadang masyarakat lebih pilih yang murah.
Ini tugas kami untuk mengedukasi," bebernya.
Peran pemerintah daerah juga dirasa penting, sebab bisa menadi kontrol terhadap beredarnya sebuah produk.
"Kami sudah pernah menyurati Bupati Pati terkait masih adanya IKM garam yang melanggar aturan.
Tapi kami kesulitan karena ternyata kepentingan politik di sana," tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pantura/foto/bank/originals/Seorang-narasumber-memberikan-materi-pelatihan-pengawasan-garam-be.jpg)