Breaking News:

Berita Kudus

Unik, di Kudus Biji Kopi Juga Diolah Jadi Bakso, Rasanya Jangan Ditanya

Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, dikenal menjadi sentra penghasil kopi yang cukup besar.

Editor: Rival Almanaf
Tribun-Pantura.com/ Raka F Pujangga
Warung Bakso Kopi di Kudus 

TRIBUN-PANTURA.COM, KUDUS - Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, dikenal menjadi sentra penghasil kopi yang cukup besar.

Kopi yang dihasilkan juga tidak hanya diolah menjadi serbuk kopi untuk minuman, tetapi juga diolah menjadi makanan.

Sejak empat bulan lalu, Komunitas Kopi Muria mulai memasarkan bakso yang terbuat dari bahan baku biji kopi yang sudah digiling kasar.

Meski New Normal IKM Logam di Tegal Tetap Lesu

Meluncur di Jateng Berikut Harga OTR Toyota Corolla Cross Hybrid di Nasmoco

IKM Logan di Tegal Dipertemukan dengan Industri Besar untuk Lahirkan Rantai Pasokan

BLT Pekerja Rp600.000 Belum Masuk Rekeningmu? Simak, Bisa Jadi 1 di Antara 4 ini Penyebabnya

Ketua Komunitas Kopi Muria, Pujiharto mengatakan, menikmati kopi tidak harus selalu dengan cara diseduh.

Makanya dia melakukan uji coba dengan membuat bakso dengan menggunakan bahan baku dari kopi.

"Responsnya masyarakat lumayan baik, karena mereka belum pernah merasakan bakso dari bahan baku kopi," jelas dia.

Puji menyampaikan, ‎telah membuat bakso kopi itu sebenarnya sudah sejak tahun 2008 yang lalu.

Namun belum ada kesempatan yang tepat untuk mulai memasarkan produk itu hingga di awal tahun lalu.

"Momennya tepat karena di sini kami sudah punya basecamp sendiri untuk memasarkan bakso kopi," jelasnya.

‎Dia menceritakan, sudah beberapa kali melakukan uji coba meramu resep bakso kopi itu hingga menemukan yang tepat.

Awalnya dia menggunakan kopi pada kuah baso tersebut, namun dinilai rasanya tidak sesuai ‎untuk disantap.

Sehingga dia hanya menggunakan kopi dan daun kopi yang masih muda untuk membuat bakso tersebut.

Daun kopi punya manfaat yang baik untuk tubuh sebagai anti inflamasi. Sebenarnya, kata dia, daun kopi juga sering dipakai untuk lalapan.

Namun seiring berkembangnya zaman, kemudian daun kopi muda tidak lagi dipakai untuk lalapan.

"Tadinya kami coba masukkan kopi dikuahnya, tetapi nggak cocok. Lalu sekarang kami pakai kopi dan daunnya yang masih muda dalam campuran adonan," ujar dia.

Warna pada baso kopi itu tidak lantas mengubahnya menjadi hitam. Puji tetap mempertahankan baso pada umumnya yang berwarna abu-abu.

"Kalau warnanya hitam nanti ngeri untuk dimakan, jadi kami tetap buat baso itu seperti umumnya," ujarnya.

Harga seporsi bakso kopi itu cukup terjangkau mulai dari Rp 15 ribu. Dalam sehari, dia bisa menjual sedikitnya 25 sampai 30 porsi per harinya.

Tampilan Bakso Kopi di Kudus
Tampilan Bakso Kopi di Kudus (Tribun-Pantura.com/ Raka F Pujangga)

Pecatan Polisi Jadi Kurir Narkoba, Edarkan 2 Kg Ekstasi dari Belanda yang Dipesan Napi di Penjara

Kisah Andi, Mahasiswa yang Beli Sepeda Motor dengan Sekarung Uang Koin: Tak Ingin Bebani Orangtua

Menteri Nadiem Anggarkan Rp7,2 Triliun untuk Sediakan Kuota Internet Siswa dan Guru selama 4 Bulan

Suami Bakar Rumah Sendiri saat Istri Tertidur Lelap, Bermula dari Cekcok Soal Ini pada Dini Hari

Dia juga melayani pesanan dari konsumennya untuk katering acara-acara tertentu. Banyak konsumennya datang dari luar desa tersebut.

"Banyak juga dari Pati dan Jepara yang datang ke tempat kami ini," ujar dia.

Untuk menuju ke tempat tersebut, membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari tengah kota Kabupaten Kudus.

Akses jalan untuk menuju lokasi tersebut cukup mudah meski harus menanjak karena lokasinya yang berada di ketinggian. Sehingga pengunjung juga akan merasakan hawa sejuk saat berada di sana. (raf)

Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved