Rabu, 8 April 2026

Berita Tegal

Berstandar BWF dan PBSI, Shuttlecock Bikinan Industri Rumahan Batang Tembus Pasar Luar Negeri

Berstandar BWF dan PBSI, Shuttlecock Home Industri Batang Tembus Pasar Luar Negeri

Penulis: khoirul muzaki | Editor: Moch Anhar
TRIBUNPANTURA.COM/DINA INDRIANI
Bupati Batang Wihaji saat meninjau home industri shuttlecock di Gang Botol, Kauman, Batang, Rabu (23/2/2022). 

TRIBUNPANTURA.COM,BATANG - Berstandar BWF dan PBSI, Shuttlecock Home Industri Batang Tembus Pasar Luar Negeri

Home industri yang diberi nama IND Shuttlecock itu dibuat oleh tangan-tangan terampil warga Gang Botol Kauman Batang berstandar Internasional. 

Pemilik IND Shuttlecock, Ahda Al Faizu (35) mengatakan, kepiawaian membuat shuttlecock didapat dari pengalamannya menjadi karyawan di salah satu home industri yang sama di Malang Jawa Timur. 

Baca juga: Tak Seimbang dengan Jumlah Penduduk, Kabupaten Batang Masih Kekurangan Dokter Umum dan Spesialis 

Baca juga: Imbas PPKM Level 4, Pengunjung Wisata Kota Tegal Dibatasi 25 Persen

Baca juga: Soal Truk Bermuatan Melebihi Kapasitas, Ganjar Minta Kemenhub Utamakan Sosialisasi Sebelum Razia

"Saya punya tekad dan cita - cita akhirnya saya pulang ke Batang dan memproduksi kecil - kecilan, ahamdulilah shuttlecock diterima dipasaran," tuturnya, Rabu (23/2/2022).

Kini, ia pun memilki 10 tenaga kerja dan mampu memasarkan produknya di 30 provinsi di Indonesia dan di 5 negara asing. 

"Awal marketnya, saya mempromosikan shuttlecock di website dan karena sudah terkoneksi orang Amerika, pertamanya permintaan dari Malaysia dan percaya dengan produk saya, produk shuttlecock saya di Malaysia malah dibeli orang Jakarta," jelasnya.

Lebih lanjut, dia bercerita setelah tahu produk dalam negeri, akhirnya menghubungilah saya dan mulailah kita memproduksi dengan jumlah banyak sesuai permintaan.

Dikatakannya, dalam home industri miliknya mampu memproduksi shuttlecock  1.200 buah per hari 

Dengan rata-rata perbulan mampu memproduksi 1.000 shuttlecock. 

Sementara untuk kebutuhan bahan baku mayoriras dari luar negeri hal itu lantaran ketersediaan bahan baku lokal belum bisa mencukupi. 

"Produk shuttlecock saya sudah bersertifikat WBF dan PBSI yang semuanya ada datanya dari mulai kecepatan, temperatur, dan suhu ruangan ada semuanya," jelasnya. 

Produk IDN Shuttlecock memiliki berat yang mengadopsi WBF yaitu 5,0 gram hingga 5,2 gram, tapi untuk Indonesia sesuai standar PBSI beratnya 4,9 gram. 

"Shuttlecock pruduk saya kita jual satu slof dari mulai Rp 35 Ribu hingga Rp 80 Ribu," imbuhnya. 

Penasaran dengan home industri shuttlecock, Bupati Wihaji pun meninjau langsung ke rumah produksi.

"Menurut saya ini sangat luar biasa walaupun diproduksi secara tradisional, shuttlecock sudah dipasarkan 30 Provinsi di Indonesia dan 5 negara," tuturnya.

Baca juga: Ombudsman RI Menemukan Kelangkaan Pasokan Minyak Goreng di Jateng

Baca juga: Soal Truk Bermuatan Melebihi Kapasitas, Ganjar Minta Kemenhub Utamakan Sosialisasi Sebelum Razia

Baca juga: Sopir Truk di Banjarnegara Pusing Tajuk Masuk Pelanggaran ODOL, Padahal Berfungsi Cegah Sayur Busuk

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved