Jumat, 1 Mei 2026

Berita Nasional

Berani Bicara Lewat Busana: Samuel Wattimena Kritik Era Post-Truth Lewat Koleksi 'Hoax & Seven Sins'

Desainer senior sekaligus anggota DPR RI, Samuel JD Wattimena, menggelar fashion show di Kota Semarang.

Tayang:
Editor: m zaenal arifin
Istimewa
FASHION SHOW: Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng saat menghadiri fashion show karya Samuel Wattimena di The Renaissance Ballroom, Jl Bukit Panorama, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Minggu (13/7/2025). Melalui karya terbarunya bertajuk "Hoax & Seven Sins", Samuel menyuarakan refleksi tajam atas kondisi sosial yang makin retak. (Dok) 

TRIBUN-PANTURA.COM, SEMARANG - Di tengah derasnya arus kebohongan dan informasi menyesatkan di era post-truth, desainer senior sekaligus anggota DPR RI, Samuel JD Wattimena, menyuarakan keresahannya bukan lewat pidato, tapi lewat potongan kain dan benang sisa.

Karya terbaru bertajuk "Hoax & Seven Sins" bukan sekadar koleksi busana, melainkan refleksi tajam atas kondisi sosial yang makin retak.

Dipamerkan di The Renaissance Ballroom, Semarang, Minggu (13/7/2025), koleksi ini menggugah perhatian publik.

Mengandalkan limbah tekstil sebagai bahan utama, Samuel menyulap potongan tenun pudar, batik yang hampir dibuang, dan denim usang menjadi busana penuh makna.

Layering tak rapi dan tekstur kasar justru menjadi bahasa visual yang kuat dalam menggambarkan kegelisahan sosial dan krisis kepercayaan publik.

"Kita hidup di zaman di mana kebenaran dikalahkan oleh emosi dan opini pribadi. Busana ini adalah perlawanan terhadap itu," ujar Samuel yang juga duduk di Komisi VII DPR RI dari Dapil Jateng I.

Lokalitas yang Bersuara

Melalui paduan bahan lokal seperti batik, tenun, dan rajut dengan sentuhan urban dari denim, koleksi ini menunjukkan bahwa lokalitas tidak kalah relevan dalam percakapan global.

"Ketika batik desa bersanding dengan denim urban, itu bukan soal gaya."

"Itu tentang identitas yang tetap teguh berdialog di tengah arus globalisasi," tegas Samuel.

Konsep ArtCycle diterapkan secara konsisten, dengan patchwork yang mencolok, serta pemanfaatan kancing dan benang sisa sebagai simbol bahwa keindahan bisa lahir dari keterbatasan.

Koleksi ini hadir bukan hanya untuk dipakai, tetapi untuk direnungkan.

Busana sebagai Protes dan Harapan

"Hoax & Seven Sins" bukan hanya fashion show, melainkan pertunjukan keberanian dalam menyuarakan kejujuran di tengah kebisingan kebohongan.

Busana-busana ini menggambarkan masyarakat yang tercerai-berai oleh politik tanpa arah, budaya yang dikomodifikasi, dan spiritualitas yang dikaburkan.

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved