Berita Kendal
Melihat Masjid Agung Kendal, Perpaduan Sejarah dan Keindahan Arsitektur Modern
Masjid Agung Kendal yang mengalami renovasi besar-besaran sejak 2022, memiliki nilai sejarah tinggi dan semakin memancarkan pesonanya.
Penulis: Agus Salim Irsyadullah | Editor: m zaenal arifin
TRIBUN-PANTURA.COM, KENDAL – Masjid Agung Kendal kini tampil dengan wajah baru yang lebih elegan dan ramah.
Setelah mengalami renovasi besar-besaran sejak 2022, masjid yang memiliki nilai sejarah tinggi ini semakin memancarkan pesonanya.
Dengan desain lengkungan khas yang menawan, Masjid Agung Kendal tetap mempertahankan unsur klasiknya yang telah berdiri sejak 1493 Masehi.
Masjid ini didirikan oleh Wali Joko, seorang murid Sunan Kalijaga yang dikirim oleh Raden Patah untuk menimba ilmu agama dan menyebarkan Islam di wilayah barat Semarang.
Bersama saudaranya, Sunan Katong, mereka menjalankan dakwah masing-masing di Kendal dan Kaliwungu.
Demi menyebarkan ajaran Islam, Wali Joko membangun masjid yang hingga kini tetap berdiri megah dan menjadi pusat kegiatan keagamaan di Kabupaten Kendal.
Sejarah dalam Setiap Tiang
Ketua Takmir Masjid Agung Kendal, Asroi Tohir, mengungkapkan bahwa masjid ini memiliki empat saka guru (tiang utama) yang menjadi simbol kontribusi empat Wali besar dalam sejarah Islam di tanah Jawa.
“Empat saka ini merupakan kiriman dari Sunan Bonang, Sunan Gunungjati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Ampel. Letaknya masing-masing berada di keempat sudut utama masjid. Hingga kini, kayu saka tersebut masih kokoh meski telah berusia lebih dari 500 tahun,” jelasnya, Jumat (14/3/2025).
Renovasi besar-besaran yang dilakukan tetap mempertahankan nilai sejarah masjid.
Meski beberapa bagian mengalami perubahan demi kenyamanan jamaah, unsur klasik seperti atap bersusun tiga dan keberadaan kolam wudhu yang dahulu dibuat oleh Wali Joko masih dijaga.
Pesona Ramadan di Masjid Agung Kendal
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Kendal juga menjadi pusat kegiatan spiritual, terutama saat bulan Ramadan.
Berbagai tradisi keagamaan rutin digelar untuk mempererat ukhuwah Islamiyah dan memperkuat keimanan.
“Setiap malam ada tadarusan, lalu siang harinya ada kajian kitab kuning yang bisa diikuti oleh siapa saja. Kami juga rutin menggelar tradisi Dugderan untuk menyambut bulan suci Ramadan, mirip dengan yang ada di Semarang,” kata Asroi.
Yang tak kalah menarik, setiap sore menjelang berbuka puasa, masjid ini menyediakan bubur lodeh gratis bagi jamaah.
Bubur yang bercita rasa gurih ini menjadi simbol kesederhanaan sekaligus pelengkap kebersamaan dalam menjalankan ibadah puasa.
“Nah, ini yang selalu dinantikan. Setiap hari ada sekitar 200 porsi bubur lodeh yang kami bagikan gratis kepada jamaah,” tambah Asroi.
Dengan perpaduan antara sejarah, keindahan arsitektur modern, dan kekayaan tradisi keagamaan, Masjid Agung Kendal bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol kejayaan Islam di tanah Jawa yang tetap lestari hingga kini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pantura/foto/bank/originals/Masjid-AGung-Kendal.jpg)