Berita Kajen

Abrasi di Simonet Pekalongan Parah, Bibir Laut Sampai Teras Rumah, Warga Singgung Janji Relokasi

Abrasi di Simonet Pekalongan Parah, Bibir Laut Sampai Teras Rumah, Warga Singgung Janji Relokasi

Istimewa
Air pasang yang terjadi di Dusun Simonet, Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Bibir laut sudah sampai teras warga. 

TRIBUNPANTURA.COM, KAJEN - Abrasi di Dukuh Simonet, Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah cukup parah dan terus terjadi hingga kini.

Daratan kian menyusut, bibir laut sudah berada di teras rumah milik warga.

"Semakin ke sini, semakin parah untuk abrasinya," kata Ketua RT 14 RW 6 Dukuh Simonet, Joyo Kusumo saat dihubungi Tribunpantura.com, Senin (25/1/2021) malam.

Baca juga: Perjuangan Distribusi Logistik Pilbup Pekalongan ke Simonet Harus Melewati Muara

Baca juga: Termasuk Jateng, Ini Daftar Wilayah Rawan Awan Cumulonimbus yang Bisa Bahayakan Penerbangan

Baca juga: SMKN 2 Slawi Fasilitasi Ponsel Gratis kepada Siswa untuk Belajar Daring, Ini Syaratnya

Baca juga: Bupati Temanggung dan Ketua DPRD Gagal Divaksin, Ini Daftar Pejabat Tak Lolos Screening Kesehatan

Joyo menceritakan, Bulan Juni 2020  banjir rob terjadi, akibat banjir ini banyak warga yang mengungsi.

"Waktu itu air pasang tinggi, semua jalan padukuhan dan pemukiman terendam banjir rob."

"Bahkan pasca banjir itu, abrasi kian mengkhawatirkan," ujarnya.

Ia mengungkapkan, daratan sudah banyak yang hilang akibat abrasi.

"Dulu jarak laut dengan rumah 100-an meter, laut sekarang sudah di teras rumah," ungkapnya.

Air pasang yang terjadi di Dusun Simonet, Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Air laut sampai rendam rumah warga.
Air pasang yang terjadi di Dusun Simonet, Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Air laut sampai rendam rumah warga. (Istimewa)

Setidaknya ada 53 rumah di dukuh tersebut yang terdampak apabila air laut pasang.

"Sekitar 250-an warga yang terdampak, jika air laut pasang."

"Bahkan, saya bersama warga sering lek-lek an (begadang) karena air laut pasang sering terjadi dini hari sampai pagi," imbuhnya.

Selain itu juga, ada beberapa warga yang masih bertahan di rumahnya walaupun rumahnya terendam air laut pasang.

"Mau ngontrak di mana, tidak punya apa-apa, jadi bertahan di rumah."

"Lantai rumah saja tidak pernah kering, terendam air terus," katanya.

Joyo menceritakan, akibat kejadian ini dulu Pemerintah Kabupaten Pekalongan sudah mengusulkan kepada warga untuk relokasi.

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved