Malam Satu Suro
Tradisi Malam Satu Suro di Kudus, Membersihkan Diri dengan Kungkum di Sendang Sokko
Beberapa ritual pada malam satu suro yang dilakukan oleh masyarakat diantaranya semedi kungkum atau bertapa sambil berendam.
Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: m zaenal arifin
TRIBUN-PANTURA.COM, KUDUS - Beberapa masyarakat di tanah Jawa, menyepakati dari penanggalan aboge bahwa malam satu suro jatuh pada Selasa (9/7/2024).
Lantaran hal itu, beberapa masyarakat masih menjalankan ritual suronan yang bertujuan untuk mencari berkah ataupun membersihkan diri untuk menyambut tahun baru islam.
Beberapa ritual yang dilakukan oleh masyarakat diantaranya semedi kungkum atau bertapa sambil berendam. Selain melakukan itu, masyarakat juga membasuh diri dan mandi.
Tradisi tersebut masih dijumpai di Desa Rahtawu Kecamatan Gebog Kabupaten Kudus. Satu diantaranya yakni petilasan atau tempat pertapaan Eyang Buyut Sakri.
Di lokasi tersebut terdapat sungai yang mengaliri bebatuan, sungai itu dinamai oleh warga sekitar Sendang Sokko, yang ramai dikunjungi saat bulan sura.
Banyak pelaku tradisi kungkum melakukan ritual mandi ataupun semedi di sendang itu. Usai melakukan ritual, biasanya pakaian yang digunakan saat prosesi dilarung.
Hal ini sebagai gambaran untuk membuang sial, agar nantinya pelaku ritual bisa mendapatkan keberkahan, ataupun beruntung dalam menjalankan kehidupan, selama setahun kedepan.
Satu diantara pelaku ritual yang mempercayainya adalah Ngatno (62) asal Blora, dia jauh-jauh ke Kudus bersama delapan orang keluarganya untuk melakukan ritual kungkum ataupun mandi di Sendang Sokko.
Ngatno mengaku telah menjalankan ritual ini selama bertahun-tahun lamanya, dia rutin datang ke Kudus tiap sura untuk melakukan ritual kungkum.
Saat masih berusia muda, Ngatno mengaku datang bersama ayahnya untuk melakukan kungkum. Hingga saat ini, Ngatno masih melakukan hal tersebut lantaran menjalankan pesan dari ayahnya sebelum meninggal.
"Dulu ayah saya sebelum meninggal, berpesan untuk datang dan mandi kesini tiap sura. Tujuan awalnya kesini ya mengikuti jejak orang tua saya, kemudian kami berdoa disini melalui petilasan eyang sakri ini, kami diberi kesehatan dan rezeki yang berkah oleh Allah," katanya, Senin (8/7/2024).
Usai melakukan ritual tersebut, Ngatno dan keluarga melanjutkan berziarah ke makam-makam waliyullah.
Sementara itu, Juru Rawat Petilasan Eyang Sakri yakni Sukriyanto mengatakan bahwa pelaku ritual kungkum yang datang berasal dari beragam daerah di Indonesia.
Sukriyanto mengatakan, konon saat melakukan mandi di Sendang Sokka bisa melunturkan sial ataupun penyakit.
"Sampai jam 12 malam itu masih ada yang melakukan ritual tersebut. Mereka mempercayai saat melakukan hal itu, bisa menyembuhkan segala penyakit termasuk santet," ujarnya.
Lantaran hal tersebutlah, banyak orang-orang yang datang untuk menyucikan diri di Sendang Sokko baik sebelum suro ataupun tepat pada malam suro.
"Banyak yang datang, menginap sampai beberapa bulan untuk mandi di Sendang Sokko saat jam-jam tertentu seperti Pukul 00.00 WIB ataupun Pukul 01.00 WIB dan Pukul 02.00 WIB," katanya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.