Berita Brebes
Kala Rumah Anak SIGAP Atasi Stunting di Pesisir Brebes, Edukasi Orangtua Pola Asuh Positif
Kala Rumah Anak SIGAP Atasi Stunting di Pesisir Brebes, Edukasi Orangtua Pola Asuh Positif.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: m zaenal arifin
Anak keduanya yang berusia 13 bulan, Fatimah Azzahra Shakwina, tumbuh sehat. Meski belum bisa berbicara, namun sangat aktif dan memahami saat diajak berkomunikasi.
“Saya sebagai ibu diajarkan cara mendidik dan berkomunikasi dengan anak. Lalu pola makan, usia 0-6 bulan hanya ASI eksklusif, usia 6 bulan setelahnya diberi makanan pendamping ASI,” kata Kusripah.

Mendongeng menjadi salah satu materi layanan Rumah Anak SIGAP di kelas Kelompok Bermain Bersama (KBB). Semuanya ada empat layanan, tiga lainnya ada Kelas Tematik (KT) Pengasuhan, Kunjungan Rumah (KR), dan Pendampingan Individual (PI).
Dalam kelas tersebut, fasilitator mengajak berdiskusi para orangtua akan manfaat mendongeng.
Empat jawaban didapatkan, satu per satu dituliskan di lembaran kertas yang ditempelkan di dinding, yaitu merangsang anak berbicara, menambah pengetahuan, melatih fokus, dan meluapkan emosi.
“Kalau dikasih cerita anak mendengarkan dan fokus, itu mencerdaskan otak anak. Jadi kami mengarahkan orangtua jika anak rewel jangan dikasih handphone, lebih baik aktif mendidik dengan bercerita,” jelas Solikha, fasilitator Rumah Anak SIGAP Kluwut.
Awalnya Ditolak
Rumah Anak SIGAP Kluwut merupakan program dari Tanoto Foundation yang diresmikan, pada 20 Juli 2022.
Program Siapkan Generasi Anak Berprestasi (SIGAP) itu bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Brebes dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Bangunan yang digunakan milik pemerintah desa, bersebelahan dengan Pondok Bersalin Desa (Polindes) Kluwut.
Jaraknya tidak jauh dari Gapura Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Kluwut, sekira 300 meter ke arah utara.
Di awal berdirinya, warga desa yang mayoritas bermatapencarian sebagai nelayan, tidak langsung menerima keberadaan Rumah Anak SIGAP.
Baca juga: Bantu Atasi Stunting, Kelurahan Kuripan Yosorejo Pekalongan Tanam Sayuran dan Budidaya Ikan Lele
Mereka sempat marah ketika anaknya disebut mengalami stunting.
“Berlangsung tidak mudah. Awal dikatakan stunting itu tidak terima, sempat ribut, menurut masyarakat sini anak-anaknya sehat,” ingat Muniroh (52), Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Desa Kluwut.
Angka stunting di Desa Kluwut saat itu menjadi yang cukup tinggi di Kabupaten Brebes, tercatat mencapai 222 anak. Karena alasan itulah, Pemerintah Kabupaten Brebes menunjuk Desa Kluwut sebagai sasaran Rumah Anak SIGAP.
Butuh waktu satu tahun hingga akhirnya masyarakat menerima. Ketua RT ikut turun menyosialisasikan, kemudian fasilitator blusukan ke dusun-dusun.
Anak-anak yang dinyatakan stunting diajak untuk hadir bersama orangtuanya di Rumah Anak SIGAP. Secara perlahan mereka diberi pemahaman tentang pola asuh anak yang baik.
Seperti makanan itu harus mengandung gizi, cuci tangan sebelum makan, tidak boleh buang air sembarangan, dan jangan membiasakan meminjamkan handphone kepada anak.
“Setelah tahu, ada hasilnya. Yang dulu buang sampah sembarangan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), berhenti. Yang dulu buang air besar (BAB) sembarangan, berhenti. Sehingga tingkat PHBS-nya meningkat, stuntingnya menurun,” katanya.

Rumah Anak SIGAP Kluwut saat ini memiliki sebanyak 121 peserta didik, terdiri dari 47 orangtua, 47 anak, dan 27 ibu hamil.
Sedangkan yang dinyatakan lulus sejak Juli 2022- Agustus 2024, tercatat sebanyak 146 anak didik.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.