Berita Semarang

Zainal Berharap Ada Uluran Bantuan Menyelamatkan Bangunan Tua di Kampung Melayu 

Di Kampung Melayu, Semarang, sebuah rumah tua sedang dibersihkan dari pohon-pohon liar yang menempel pada bangunan bersejarah itu.

Penulis: Rezanda Akbar D | Editor: Moch Anhar
TRIBUNPANTURA.COM
RUMAH TUA - Bangunan tua di Kampung Melayu yang pernah menjadi studio foto legendaris Seni Foto Gerak Cepat, di Jl Layur, Dadapsari, Semarang Utara. 

TRIBUNPANTURA.COM, SEMARANG - Di Kampung Melayu, Semarang, sebuah rumah tua sedang dibersihkan dari pohon-pohon liar yang menempel pada bangunan bersejarah itu. Dindingnya diselimuti sulur liar, atapnya retak oleh pohon yang tumbuh di sela genting. Akar menembus tembok, dahan menyusup ke dalam bangunan. Lebih mirip reruntuhan hutan kecil ketimbang rumah tua.

Pada siang pekan lalu, sejumlah pekerja menyalakan mesin gergajinya membersihkan satu per satu cabang pohon yang menggerogoti bangunan di tikungan Jl Kakap-Jl Layur, Dadapsari, Semarang Utara.

“Ini kita sedang melakukan pembersihan karena sudah sekian puluh tahun, bangunan ini disewa oleh pihak lain. Baru dua tahun ini kembali ke masjid, sebgaia pemilik aset wakaf,” ujar Zainal Abidin, pengurus Yayasan Masjid Menara Semarang, ditemui Tribun Jateng.

Bangunan tua dikenal sebagai Studio Seni Foto Gerak Cepat, sebuah studio foto legendaris sejak era 1970-an. Zainal kini berupaya mencari referensi yang menyebut bangunan ini pernah menjadi tempat tinggal Kapitan Arab era Hindia Belanda.

Setelah bangunan tak disewakan dua tahun terakhir, rumah dikosongkan tak berpenghuni. Tanaman liar pun tumbuh tak terkendali. Akar-akar pepohonan bukan hanya merusak, tapi nyaris menghapus bangunan dari peta visual kawasan.

Lokasi bangunan ini berdiri dulu dikenal dengan sebutan Kampung Melayu, sebuah kawasan hunian multikultur dari berbagai suku bangsa, diantaranya orang Arab Hadhrami. Seperti banyak kota pelabuhan di pesisir utara Jawa, Semarang menjadi rumah bagi para perantau dari Hadramaut (Yaman Selatan) yang datang sejak abad ke-18.

Dalam sejarah keberadaan jabatan Kapitan Arab ini semacam pemimpin yang menjadi perantara resmi antara komunitas Arab dan pemerintah kolonial. Mereka mengatur persoalan sipil, pernikahan, bahkan pajak, serta menjadi figur sosial dan politik penting di lingkungannya.

"Untuk hal ini kami masih terus menelusuri apakah ada literatur atau dokumen yang menyebutkan bangunan ini benar-benar sebagai rumah Kapitan Arab," jelas Zainal.

Pada foto lamanya bangunan ini dahulu tampak tiang-tiang tinggi, denah luas, ventilasi besar dengan kisi kayu, serta struktur yang lazim dijumpai di rumah-rumah elite bergaya Indies di Tanah Jawa. Namun saat ini, kondisi rumah tersebut hampir setengahnya sudah tenggelam oleh jalanan.

Setelah masa kolonial berlalu, rumah ini sempat digunakan sebagai sekolah Al Irsyad sekitar tahun 1960-an. Begitu sekolah pindah ke lokasi baru, rumah disewakan kepada seorang Fotografer bernama Ali Mahrus. Dialah yang kemudian membuka Studio Gerak Cepat di sini studio foto yang dikenal luas di Semarang pada masanya.

Sejak tahun 1970-an rumah ini difungsikan sebagai tempat tinggal dan studio foto. Orang-orang mendokumentasikan pas foto, foto keluarga dan momen istimewa mereka pada studio itu.

Tapi waktu terus bergulir. Era digital datang. Studio tutup. Di balik tembok lapuk dan akar yang merobek fondasi, rumah ini menyimpan potongan penting dari sejarah urban Semarang yang kosmopolit.

“Semoga pemerintah kota, atau Dinas Kebudayaan bisa lihat dan bantu pelestariannya. Saat ini kami hanya melakukan pembersihan saja. Untuk revitalisasi belum memungkinkan karena keterbatasana anggaran yayasan,” harap Zainal.
Pokdarwis Dadapsari, Naiv Abdulrahman, menambahkan, menurut catatan aset Masjid Menara tahun 1961, tertulis, di situ penyewanya sekolah Al Irsyad, sebelum disewa pemilik Seni Foto Gerak Cepat.
"Di arsip tersebut juga ada keterangan surat ukur (pengukuran tanah) di tahun 1887. Ini artinya rumah itu sudah ada sebelum dipakai sebagai rumah Kapiten Arab yang pertama," katanya.
Sebagai informasi, di era Hindia Belanda, ada dua Kapitan Arab yang menjabat, yakni Sayyid Abdurrahman Alhabsyi dan Sayyid Ali bin Yahya Alhabsyi. Hanya saja belum bisa dipastikan, kapitan arab mana yang mendiami bangunan tersebut. (rad)

Sumber: Tribun Jateng
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved