Breaking News:

Berita Semarang

Kisah Ojol Lansia di Semarang, Tertipu Order Fiktif dan Hipnotis Hingga Tabungannya Ludes

Nasib malang dialami Audy Hamdani (60), seorang ojek online di Semarang. Pria yang hidup sebatang kara ini dapat orderan fiktif.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: Rival Almanaf
Tribun-Pantura.com/ Iwan Arifianto
Audy Hamdani saat menunjukan nomor whatsapp pemesan order fiktif sekaligus pelaku hipnotis via telepon di Semarang, Sabtu (26/9/2020). 

TRIBUN-PANTURA.COM, SEMARANG - Nasib malang dialami Audy Hamdani (60), seorang ojek online di Semarang.

Pria yang hidup sebatang kara ini dapat orderan fiktif.

Bahkan, ia sempat terkena modus hipnotis lewat telepon hingga uang tabungannya ludes digasak pelaku.

SMPN 14 Kota Tegal Dapat Penghargaan Adiwiyata Terbaik 3 Tingkat Jateng

Panitia Konser Dangdut yang Digelar Wakil Ketua DPRD di Kota Tegal Jalani Swab Test

Total 500 Lebih Santri di Pondok Pesantren Karangsuci Purwokerto Jalani Tes Swab

KPU Jateng Minta Daerah Lain Contoh Kabupaten Semarang Terkait Protokol Kesehatan Paslon

Untuk mengetahui kronologi kejadian tersebut, Tribun-Pantura.com mencoba menemui Audy, sapaan akrab pria itu.

Ia biasa mangkal di sekitar apotek K24 Jalan Tlogosari Raya, Tlogosari Kulon Kota Semarang.

Ketika ditemui, ia tengah duduk menunggu orderan di atas motor Honda Beat Pop miliknya.

Ia lalu mulai bercerita tentang kejadian nahas tersebut.

"Kejadian bermula saat saya menerima pesanan berupa paket ayam geprek jumbo plus es teh sejumlah 14 buah," katanya kepada Tribun-Pantura.com, Sabtu (26/9/2020).

Orderan itu berasal dari seorang pria dengan nomor whatssap 081377611461.

Pesanan di antar ke Jalan Taman Belimbing Peterongan Kota Semarang.

"Waktu pesan tanggal 22 September pada waktu sore hari sekira pukul 16.30 WIB," katanya.

Setelah pesanan jadi, Audy mengantarkan pesanan itu ke alamat yang dimaksud sekira pukul 17.00.

Ternyata alamat itu merupakan rumah kosong.

"Saya bingung waktu itu, pesanan banyak menghabiskan uang Rp 315 ribu, membawa makanan juga susah apalagi sore itu hujan deras," bebernya.

Di tengah kebingungan itu, Audy berteduh di bawah pohon sembari menelpon pemesan atau pelaku.

Ternyata pelaku membatalkan atau mencancel pesanan itu.

Selepas mencancel pesanan, ia menelepon Audy kembali.

Di tengah kebingungan itu, Audy disuruh pelaku pergi ke mesin ATM untuk mengecek saldo.

Pada saat itu, Audy belum tersadar bahwa ia terkena hipnotis pelaku.

Ia mengaku, hanya berpikir bagaimana nasib 14 nasi bungkus yang dicancel pesanannya oleh pelaku tidak rusak terkena air hujan.

Ia menuruti permintaan pelaku seperti memfotokan jumlah saldo di tabungannya lalu mengirim foto itu ke pelaku.

Kemudian memasukan nomor tertentu pada saat cek saldo di ATM.

"Saya tidak sadar kena hipnotis jadi menuruti saja perintah pelaku," jelasnya.

Setelah melakukan obrolan telepon dengan pelaku.

Korban lalu memutuskan menyerahkan makanan tersebut ke panti asuhan Muhammadiyah dekat tempat ia tinggal di Jalan Giri Mukti Tlogosari Semarang.

"Saya sewaktu kejadian hanya fokus pada makanan agar tidak sia-sia, terkait penipuan itu betul-betul lupa," terangnya.

Audy mulai tersadar tertipu ketika hendak melakukan top-up di saldo akun Grab miliknya pada malam hari itu.

Ia mengecek di ATM, tabungannya sejumlah Rp 500 ribu telah raib.

Pria sebatang kara di Semarang ini pun hanya bisa terkulai lemas.

Uang itu memang simpananya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berarti Audy telah tertipu sejumlah Rp. 815 ribu.

Rinciannya Rp. 315 ribu dari orderan fiktif.

Rp 500 ribu kena hiptonis.

Ia pun menelepon ke pelaku namun nomornya telah diblokir oleh pelaku.

"Untung di kantong ada uang Rp 150 ribu, Rp 100 ribu saya gunakan buat top-up akun Grab, uang Rp 50 ribu buat makan," ujarnya.

Lantaran penasaran dengan raibnya uang di rekening, besoknya Audy mendatangi customer service bank CIMB Niaga.

Ternyata uang Rp 500 ribu digunakan untuk membeli pulsa Telkomsel oleh pelaku.

Transaksi tercatat di Bank persis ketika ia setelah mengantar pesanan fiktif ke rumah kosong tersebut yakni pada 22 September pukul 17.22.

"Saya juga sudah mengadu ke kantor Grab, mereka telah menjawab melalui email yang mengintruksikan agar mengklaim orderan fiktif."

"Sedangkan terkait hiptonis saya tidak tahu, mau lapor polisi juga bingung," katanya.

Dari kejadian ini, Audy hanya bisa ikhlas sebab ia sudah tidak tahu lagi mengadu kemana.

Ia pun berpesan kepada sesama rekan ojol untuk tetap berhati-hati agar kejadian serupa tidak terulang.

Ia juga menduga kejadian serupa telah belasan kali terjadi menimpa belasan ojol di Semarang.

"Hampir tiga tahun kerja sebagai ojol baru kali ini kena order fiktif dan hipnotis," terang mantan karyawan supermarket ini.

Audy dari bekerja sebagai ojol mampu mengantongi pendapatan kotor Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu perhari.

Pendapatan bersih sekira Rp 30 ribu sampai Rp 70 ribu.

"Di masa pandemi pendapatan jadi tidak menentu, tetapi saya tetap bersyukur masih sehat dan kerja," katanya.

Saksi mata, Vina (19) mengatakan, sempat melihat korban mondar-mandir di tempat biasa mangkal.

Bagaimana Peluang Bisnis Mobil Bekas, Jika Pemerintah Merealisasikan Pajak Mobil Baru Nol Persen?

Suhu Capai 35 Derajat Celcius, Berikut Prakiraan Cuaca Kota Semarang Sabtu 26 September 2020

Suhu Capai 35 Derajat Celcius, Berikut Prakiraan Cuaca Kota Semarang Sabtu 26 September 2020

Wajah korban tampak linglung.

Ia pun berinisiatif menanyakan ke korban.

"Ternyata Pak Audy kena tipu sekaligus kena hipnotis," terangnya kepada Tribun-Pantura.com.

Ia mengatakan, hampir setiap hari bertemu dengan Audy karena tempatnya berjualan es Boba dekat dengan tempatnya mangkal.

"Ia hidup sendirian di Semarang, saya dan teman-teman kasihan kepada beliau yang tetap bekerja keras di usia senja."

"kami lalu galang donasi ngumpulin sedikit uang untuk kami beri ke Pak Audy, meski seadanya semoga membantu," jelasnya.

(Iwn)

Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved