Breaking News:

Berita Batang

Kisah Perajin Keranjang Bambu di Kabupaten Batang Bertahan Hidup di Tengah Pandemi

Tangan terampil Modriah (40) warga Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang, nampak bersahabat dengan tajamnya pisau.

Penulis: budi susanto | Editor: Rival Almanaf
Tribun-Pantura.com/ Budi Susanto
Modriah tengah memasak menggunakan tunggku kayu di samping rumahnya yang terletak di Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang, Kamis (22/10/2020). 

TRIBUN-PANTURA.COM, BATANG - Tangan terampil Modriah (40) warga Desa Brokoh Kecamatan Wonotunggal Kabupaten Batang, nampak bersahabat dengan tajamnya pisau.

Seolah menari, pisau itu dikendalikan jari-jemari Modriah untuk memipihkan sebilah bambu yang sudah dibelah menjadi batang-batang kecil.

Di tengah kesibukannya, Modriah menata beberapa keranjang bambu hasil kerjinannya, untuk kemudian ia melanjutkan kembali pekerjanya.

Baca juga: Mengintip Prostitusi di Jalur Pantura Batang, Dalam Semalam Wanita Ini Bisa 15 Kali Masuk Kamar

Baca juga: Gelapnya Jalur Pantura Batang Dikeluhakan Pengguna Jalan

Baca juga: 1 Dokter dan 3 PNS Terjaring OTT Pungli Rapid Test, Petugas Sita Uang Tunai Rp15,9 Juta

Sudah belasan tahun wanita 40 tahun itu menjadi pengayam bambu untuk dijadikan keranjang.

Meski penghasilannya tak besar, karena satu buah keranjang hanya dijual Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu namun Modriah merasa hal itu menjadi rejeki baginya dan keluarga.

Bagi Modriah, menjadi pengrajin keranjang bambu bukanlah sesuatu hal yang menjanjikan jika dibanding pekerjaan lainnya seperti karyawan.

Namun menurut Modriah, jika semua dijalani secara tulus dan selalu bersyukur, ia yakin akan menuai berkah.

"Ya memang orang desa seperti ini, intinya terus berusaha saja. Meski dapat uang tak seberapa, namun saya yakin bisa mencukupi," jelas Modriah yang tinggal bersama suami dan dua anaknya, Kamis (22/10/2020).

Seolah merangkai kata-kata mutiara, Modriah menjelaskan, hidup sederhana, bahagia dengan banyak cinta menjadi kunci ia menjalani keseharian.

"Harusnya memang bersyukur, karena kalau menuntut kurang ya pasti kurang. Menurut saya lebih baik bersyukur," jelasnya.

Baca juga: Kerabat Jokowi Jadi Korban Pembunuhan, Tangan Diikat Mobil Dibakar, Polisi Ungkap Hasil Autopsi

Baca juga: Tim SAR Gabungan Cari Pemancing Petungkriyono yang Hilang, Hari Pertama Belum Buahkan Hasil

Baca juga: Langgar Protokol Kesehatan, 8 Timses Paslon Pilkada di Jateng Dapat Sanksi Ini

Modriah menerangkan sumainya hanya pencari kayu di hutan, selain membuat keranjang, penghasilan keluarga ditopang dengan berternak kambing.

Wanita 40 tahun itu juga tak jarang bergantian bersama sang suami mencarikan rumput untuk pakan ternaknya.

"Saya jalani saja, selama ini kami juga bersyukur dan tidak merasa kekurangan," tambahnya. (bud)

Sumber: Tribun Pantura
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved