Opini
Opini Idham Cholid: Mengapa Harus Gus Yahya?
Opini Idham Cholid: Mengapa Harus Gus Yahya? muktamar ke 43 nu di lampung gus yahya ketua umum pbnu
Idham Cholid |Kader NU, Alumni PMII, Ketua Umum Jayanusa
Akhirnya, Muktamar ke-34 NU dipercepat. Tidak hanya jadwal yang dimajukan, tetapi juga pelaksanaannya. Cukup dua hari saja: 22-23 Desember, dari jadwal semula: 23-25 Desember 2021.
Dengan demikian, Kamis malam atau Jumat dini hari kita sudah bisa mengetahui hasilnya, siapa yang terpilih menjadi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU nanti.
Memang tidak hanya itu yang dihasilkan. Muktamar juga membahas, bagaimana perubahan tata aturan dan program organisasi. Juga tak kalah pentingnya, kajian hukum yang dihasilkan forum Bahtsul Masaail yang membahas berbagai persoalan dalam perspektif keislaman.
Tradisi Keulamaan
Meski demikian, "perebutan" Ketua Umum PBNU selama ini selalu menyita perhatian. Kita tak memungkiri, siapa yang terpilih, itulah yang paling dinanti.
Saat ini ada dua nama yang mengemuka, yaitu KH Said Aqil Siradj dan KH Yahya Cholil Staquf --yang akrab disapa Gus Yahya.
Sebagai petahana, Kiai Said masih dimungkinkan maju kembali karena memang tak ada larangan untuk menjabat tiga periode. Belum ada aturan yang secara khusus membatasi jabatan itu.
Sementara Gus Yahya, kita tahu, juga mendapatkan banyak dukungan. Sebagai Katib Aam, jelas, dia yang paling layak saat ini. Kenapa? Jika melihat "tradisi" sebelumnya, Ketua Umum PBNU selalu menduduki jabatan Katib Aam terlebih dahulu.
Gus Dur contohnya, yang pasca Muktamar Semarang pada 1979 menduduki jabatan itu hingga terpilih sebagai Ketua Umum PBNU saat Muktamar 1984 di Situbondo.
Atau, Kiai Said sendiri misalnya, sebelum terpilih sebagai Ketua Umum pada Muktamar Makassar 2010, sejak Muktamar Boyolali pada 2004 telah menjabat Katib Aam.
Baik Gus Dur, Kiai Said, maupun Gus Yahya, sebelum menjadi Katib Aam juga telah berkhidmah di PBNU, sebagai Katib. Katib Aam adalah orang kedua setelah Rais Aam. Adapun Katib, membantu tugas-tugas Katib Aam. Semua itu jabatan di Syuriah.
Kita tahu, Syuriah adalah lembaga "tertinggi" di NU, sebagai representasi kepemimpinan ulama. Maaf, saya memberikan tanda petik, karena sampai hari ini Syuriah tak jarang masih disalahpahami hanya sebagai pelengkap.
Namun kita tidak akan membahas soal itu. Yang pasti, siapapun yang telah melewati pengabdian di jajaran Syuriah, ia telah teruji keulamaannya. Apalagi sebagai Katib Aam, pastilah dapat menjalankan tradisi keulamaan dengan baik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pantura/foto/bank/originals/Idham-Cholid-Kader-NU-alumni-PMII-Ketua-Umum-Jayanusa-34.jpg)