Opini

Opini Idham Cholid: Mengapa Harus Gus Yahya?

Opini Idham Cholid: Mengapa Harus Gus Yahya? muktamar ke 43 nu di lampung gus yahya ketua umum pbnu

Dokumen Pribadi
Idham Cholid | Kader NU, alumni PMII, Ketua Umum Jayanusa 

Bagaimanapun, NU tak bisa lepas dari tradisi itu. Boleh dikata, Gus Dur dan Kiai Said merupakan contoh terbaik tipologi kepemimpinan NU yang sangat kuat dengan tradisi keulamaan. Gus Yahya juga mewarisi itu.

Santri Gus Dur

Baik Kiai Said maupun Gus Yahya adalah "santri" Gus Dur. Santri bukan dalam arti sebagaimana di pesantren, tetapi lebih sebagai penerus yang mewarisi pemikiran, sikap, dan perannya. Demikian pula KH Hasyim Muzadi. Meskipun dia sampaikan lebih dulu aktif di NU dibanding Gus Dur sendiri.

Kiai Hasyim berjuang di NU benar-benar dari bawah, aktif di PMII dan Ansor sejak di Malang, ketika Gus Dur masih studi di luar negeri. Selisih umur keduanya juga tak jauh. Kiai Hasyim kelahiran 1944, lebih muda empat tahun dari Gus Dur.

Kiai Hasyim merupakan penerus Gus Dur saat transisi di awal era reformasi. Terpilih di Muktamar Lirboyo, Jatim, pada 1999 saat Gus Dur baru saja menjabat Presiden RI. Artinya, Kiai Hasyim menjadi orang terpercaya yang dapat melanjutkan kepemimpinan Gus Dur.

Tanpa menafikkan peran yang lain, Kiai Hasyim telah menjadi "operator" yang baik dalam menyukseskan PKB (partai bentukan NU) pada Pemilu pertama era reformasi. Sebagai Ketua PWNU Jatim saat itu, dia telah berhasil mengamankan basis utama nahdliyin.

Tak hanya itu, dia pula yang setia "mengawal" kepresidenan Gus Dur di tengah gempuran politik hingga Gus Dur dilengserkan melalui Sidang Istimewa MPR pada 2001.

Kiai Said juga demikian. Dia sering sampaikan, memang tak pernah ngaji secara langsung dengan Gus Dur layaknya santri di pondok pesantren. Namun diakuinya, dari Gus Dur lah dia banyak belajar bagaimana menghadapi berbagai persoalan.

Berkaitan dengan kepemimpinan, politik kebangsaan dan wawasan keagamaan, boleh dikata Kiai Said adalah "copy paste" Gus Dur.

Bahkan, terutama tentang kepemimpinan NU, Kiai Said sendiri mengakui telah menerima "petunjuk khusus" dari Gus Dur. Ketika dia hendak maju pada Muktamar 2004 di Boyolali, Gus Dur melarangnya.

"Sampean akan jadi Ketua Umum PBNU nanti setelah umur 55 tahun," demikian Gus Dur, sebagaimana sering diceritakan Kiai Said.

Benar saja. Kiai Said yang kelahiran 1953 berhasil tepilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar 2010 di Makassar, saat usia 57 tahun. Di sinilah Kiai Said sering tegaskan tentang kewalian Gus Dur.

Adapun Gus Yahya, tentang hubungan dan kedekatannya dengan Gus Dur, jelas tak diragukan lagi. Bukan sekadar karena pernah menjadi juru bicara kepresidenannya. Tetapi dia memang sangat dipercaya. Buktinya, dia yang membacakan Dekrit Presiden yang kemudian memantik pelengseran Gus Dur.

Artinya, Gus Yahya adalah segelintir kader NU yang sangat setia dengan Gus Dur. Dia yang berani mengambil peran penting, justru ketika masa paling sulit.

Namun sampai hari ini, boleh dibuktikan, hanya Gus Yahya yang belum mendapat "keberuntungan" di antara sekian banyak orang yang mempunyai kedekatan dengan Gus Dur. Dia tak pernah menjadi apa-apa, selain hanya menjadi juru bicara yang setia.

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved