Opini

Opini Idham Cholid: Mengapa Harus Gus Yahya?

Opini Idham Cholid: Mengapa Harus Gus Yahya? muktamar ke 43 nu di lampung gus yahya ketua umum pbnu

Dokumen Pribadi
Idham Cholid | Kader NU, alumni PMII, Ketua Umum Jayanusa 

Secara usia, Gus Yahya yang kelahiran 1966 memang anak Gus Dur. Ayah Gus Yahya, KH Cholil Bisri, atau pamannya yaitu KH Mustofa Bisri, adalah karib Gus Dur. Melalui keduanya, Gus Yahya didekatkan langsung dengan Presiden ke-4 RI tersebut.

Sampai hari ini, Gus Yahya masih membuktikan kesetiaannya. Dia menjadi anak ideologis Gus Dur, tidak hanya bisa bicara banyak hal, tapi benar-benar menerjemahkan gagasan besarnya tentang perdamaian dunia.

Dia buktikan itu, dengan berani menentang arus, hingga datangi Israil sekalipun. Dia telah menghidupkan Gus Dur kembali.

Dalam konteks ke-NU-an, harus diakui, Gus Dur memang tak bisa dipisahkan. Bicara tentang NU tentu tak akan sempurna jika mengabsenkan kiprahnya.

Pengaruh Gus Dur sangat kuat, tidak saja karena tiga periode menjadi Ketua Umum PBNU. Kekuatannya, justru terletak pada gagasan dan pemikiran yang dinilai melampaui zaman.

Yang paling fundamental, Gus Dur telah merubah orientasi NU, dan menempatkan secara benar dalam relasinya dengan negara. Kembali ke Khittah 1926, sebagaimana keputusan Muktamar 1984 di Situbondo, adalah bagian terpenting dari gagasannya yang telah membawa perubahan mendasar NU sebagai kekuatan civil society.

Tidak hanya merubah cara pandang terhadap dunia politik, Khittah itu pula yang telah menjadi titik balik keberpihakan NU lebih nyata untuk memberdayakan umatnya.

Dan sejarah juga mencatat, di Situbondo lah deklarasi hubungan antara agama dan negara ditetapkan. NU menjadi pelopor tuntasnya Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara.

Pemimpin Muda

Muktamar ke-34 kali ini benar-benar memiliki makna strategis. Inilah perhelatan besar NU di akhir satu abad masa khidmahnya. NU akan memasuki abad kedua. Tentu, tantangan tidak semakin ringan. Arus perubahan tak mungkin terhindarkan.

Perubahan secara demografis saja misalnya. Penduduk Indonesia saat ini, 52.6 persen adalah generasi Z dan millenial (2020), dan 85.0 persen sudah terkoneksi dengan internet (2021). Diproyeksikan, pada 2045, sebesar 72.8 persen tinggal di wilayah urban. Setidaknya, "urban" secara kultural.

Tentu, itu semua membawa implikasi yang cukup serius. Wacana pemikiran yang lebih rasional dan ideologi yang makin beragam, semakin longgarnya ikatan kultural dan emosional, secara personal juga semakin independen dan terbuka, dengan tuntutan ekonomi yang makin tinggi, adalah sekian konsekuensi yang dihadapi.

Sebagai ormas Islam terbesar, bahkan di seluruh dunia, tentu NU harus membenahi diri dengan sebaik-baiknya. Dalam konteks ini, pemimpin dengan gagasan pemikiran, strategi, dan tatakelola baru, benar-benar diharapkan. Karenanya, perlu tampil pemimpin muda seperti Gus Yahya.

Jika di Muktamar ke-34 ini dia ditakdirkan terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, memang sudah waktunya. Yang jelas, setiap masa mempunyai pemimpinnya sendiri.

Sebaliknya, pemimpin pasti akan lahir di masa yang tepat pula. Di antara sekian kader muda NU, Gus Yahya adalah yang sangat tepat. Dia menjadi salah satu pemimpin muda yang diharapkan.

Sumber: Tribun Pantura
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved